Bagas Karyadi
Shalom! Anda tinggal di Jakarta? Bergabunglah ke dalam KRISTA: Komunitas Kristen Jakarta, klik di sini!

Inilah Alasan Mengapa Tuhan Yesus Juga Memiliki Kemungkinan untuk Bisa Berbuat Dosa


Pada renungan harian Kristen kali ini, saya akan menunjukkan kepada kita semua bahwa Tuhan Yesus benar-benar menjelma menjadi manusia biasa. Jika Ia benar-benar menjelma menjadi manusia biasa seharusnya ada kemungkinan baginya untuk berbuat dosa.

Mungkin, Anda akan berkata, “Bagaimana mungkin Yesus bisa berbuat dosa? Dia adalah Tuhan!” Baik, saya setuju dengan Anda. Namun, saya tidak setuju dengan alasan itu. Saya setuju Tuhan Yesus tidak pernah berbuat dosa. Namun, saya tidak setuju Ia tidak pernah berbuat dosa oleh karena ketuhanan-Nya.

Sebenarnya hal yang mau saya tekankan adalah ada kemungkinan bagi-Nya untuk berbuat dosa, tetapi Ia memilih untuk tidak berbuat dosa. Ia memilih untuk tidak berbuat dosa karena ketaatan-Nya kepada Bapa, bukan karena ketuhanan-Nya.

Sebelum mendalami lebih lanjut mengenai hal ini, kita harus menghayati apa yang tertulis dalam Filipi 2:5-8 yang berbunyi demikian: Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Perikop di atas jelas-jelas menginformasikan kepada kita bahwa Tuhan Yesus benar-benar meninggalkan ketuhanan-Nya dan menjelma menjadi manusia biasa, bahkan menjadi seorang hamba. Selain itu, Ibrani 2:17 juga menjelaskan hal yang serupa, berbunyi demikian: Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.

Ia harus disamakan dalam segala hal dengan manusia lainnya supaya Ia dapat menjadi teladan yang nyata dan sah untuk mendamaikan dosa seluruh dunia. 
Jadi, jika Ia tidak mengalami pergumulan untuk menghadapi dosa, Ia tidak akan bisa menjadi teladan yang nyata. Jika Ia mampu menolak berbuat dosa dengan ketuhanan-Nya, Ia tidak akan bisa menjadi teladan yang nyata.

Mengapa? Kehidupan Tuhan Yesus harus bisa ditiru oleh manusia lainnya. Jika Ia hidup mempergunakan kekuatan ekstra-Nya, maka kehidupan-Nya tidak bisa ditiru oleh manusia lainnya.

Dengan demikian, Tuhan Yesus memang memiliki kemungkinan untuk bisa berbuat dosa, tetapi Ia memilih untuk taat dan tidak berbuat dosa. Ia berjuang untuk taat kepada Bapa-Nya, bahkan taat sampai mati di atas kayu salib.

Melalui hal ini, kita seharusnya menyadari bahwa Tuhan Yesus sendiri pun pernah mengalami situasi yang sangat kritis ketika mengalami pencobaan sebagai manusia biasa. Ia bisa saja berbuat dosa, tetapi Ia tidak melakukannya.

Satu-satunya pencobaan terberat yang Ia alami adalah ketika Ia berdoa di Taman Getsemani. 
Ia hampir saja berbuat dosa dengan memohon kepada Bapa-Nya untuk menyingkirkan cawan penderitaan yang akan Ia hadapi. Artinya, Ia hampir menolak untuk menjadi Juru Selamat. Betapa indahnya, Tuhan Yesus menutup doa-Nya dengan kata-kata, “Biarlah kehendak-Mu yang jadi.”

Tuhan Yesus memilih untuk menghadapi cawan penderitaan itu demi menebus dosa-dosa kita. Bayangkan, apa yang terjadi seandainya Tuhan Yesus memilih untuk melarikan diri dari tugas-Nya? Apa jadinya kita jika Ia menolak untuk disalibkan? Bisa-bisa, tidak ada satupun manusia yang dapat diselamatkan. Bahkan, Tuhan Yesus sendiri pun bisa jadi tidak terselamatkan. Sungguh mengerikan!

Kita seharusnya benar-benar bersyukur karena Tuhan Yesus mampu bertahan dalam pencobaan yang dihadapi-Nya dan memilih untuk tidak berbuat dosa. Ia benar-benar konsisten dalam ketaatan-Nya kepada Bapa. Tuhan Yesus memilih untuk mengorbankan diri-Nya sendiri untuk menyelamatkan kita. Pertaruhannya sungguh luar biasa!


Saudaraku, inilah kehidupan manusia yang paling ideal, yang harus kita tiru. Selain menyelamatkan manusia dari api kekal, Tuhan Yesus juga sebenarnya mempunyai misi untuk memberikan contoh kehidupan manusia yang ideal, yang diingini oleh Allah. Mari contohlah kehidupan Tuhan Yesus! Tirulah kehidupan Tuhan Yesus! Hiduplah seperti Tuhan Yesus hidup! Amin. Tuhan Yesus memberkati.

Salam kebenaran,

Bagas Karyadi, M.Th.
 087871110565
Facebook: fb.com/bagas.karyadi

Catatan:

  • Dapatkan buku rohani Rahasia Jodoh Kristen GRATIS, klik di sini!
  • Jangan lupa, ikuti juga Facebook saya supaya tidak ketinggalan Renungan Harian Kristen terbaru! Anda juga dapat bertanya melalui Facebook saya: facebook.com/bagas.karyadi
  • Anda juga dapat membaca renungan-renungan saya yang lainnya di blog ini. Saya yakin masih banyak renungan-renungan bermanfaat yang belum Anda baca.
  • Jika Anda merasa diberkati, silahkan bagikan renungan ini.

4 Responses to "Inilah Alasan Mengapa Tuhan Yesus Juga Memiliki Kemungkinan untuk Bisa Berbuat Dosa"

Yanthy Hans said...

Bukankah Yesus dinubuatkan akan menebus dosa berkali-kali di PL? Bukankah Yesus tidak bisa menebus dosa jika dia berbuat dosa? Jadi mengatakan Yesus ada kemungkinan berdosa sama saja mengatakan nubuatan ada kemungkinan meleset. Bukankah begitu pak Bagas?

Bukankah juga kita menerima Yesus adalah Allah. Dan ada tertulis ...
Yakobus : 1
1:13 Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" SEBAB ALLAH TIDAK DAPAT DICOBAI OLEH YANG JAHAT, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun.

Mengatakan bahwa Yesus mungkin saja jatuh ke dalam pencobaan, bukankah itu sama saja mengatakan Yesus bukan Allah? Ah....jadi bingung saya pak.

Bagas Karyadi said...

Ketuhanan Yesus ketika Ia menjadi manusia terletak pada Roh-Nya, Roh Allah Anak. Ketika Ia menjadi manusia, Ia benar-benar 100% manusia. Roh-Nya benar-benar 100% Roh Allah Anak.

Perjuangan Yesus yang natural adalah bukti Ia sanggup menggenapi nubuatan-nubuatan yang ada. Justru kita semakin menghayati karya penebusan-Nya yang agung. Semuanya adalah perjuangan, bukan sandiwara. Amin. :-)

hamzah oei said...

Jgn memakai angka 100 % utk menghitung kemanusiaan atau tidaknya. Sebab ketika yesus menjadi manusia, tentu saja tidak membatalkan ke Allahan-Nya. Allah tidak dapat berbuat dosa. Kata "sama" dgn kita bukan sama secara sempurna, Ia dikandung tanpa dosa, sedangkan kita statusnya mn berdosa. Bagaimana anda dpt mengkorelasikan christ from below dan chist from above dalam konteks fil 2:1? Ia yg tidak menganggap bukan menghilangkan natur Allahnya. Sandiwara tentu not! Itu justru pembuktiaan ketuhanan Yesus di mana kemudian Yohanes memakainya utk melawan gnostisisme. Juga teladan bahwa kita dipanggil untuk menjadi serupa Yesus dengan berpegang kepada kuasa-nya yg memampukan anak-anaknya

Kaze Rekuso said...

Jika Yesus bisa berbuat dosa, kenapa Ia menantang para imam bahkan untuk anda menunjukkan bahwa Ia berbuat dosa?

Yohanes 8:46. Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku?