Bagas Karyadi
Shalom! Anda tinggal di Jakarta? Bergabunglah ke dalam KRISTA: Komunitas Kristen Jakarta, klik di sini!

Kehidupan yang Bernuansa Militer

kehidupan militer
Ketika itu saya menyaksikan sebuah film yang mengisahkan seorang anak yang berjuang habis-habisan untuk melakukan putaran balet. Pelatihnya memaksa anak itu untuk dapat melakukan putaran balet yang sempurna. Berkali-kali anak itu mencoba melakukan putaran tapi hasilnya sangat tidak memuaskan. Ia hanya mampu melakukan satu kali putaran lalu terjatuh.

Lalu sang pelatih menyuruhnya untuk berlatih mengulangi putaran seorang diri saja. Sang pelatih meninggalkan anak itu seharian. Ternyata pelatih itu tidak pernah kembali ke ruang latihan hingga asistennya menyuruhnya untuk segera datang ke ruang latihan. Asistennya berkata, “Anak ini sudah berjuang terlalu lama. Lihat ujung jari-jari kakinya sampai memar dan berdarah!”

Ketika anak itu tampil di panggung, akhirnya anak itu dapat menunjukkan penampilan terbaiknya. Anak itu mampu menari balet dengan baik dan mampu melakukan putaran balet dengan sangat sempurna. Jerih payah yang dilakukannya akhirnya benar-benar membuahkan hasil yang sangat memuaskan.

Saudaraku, sesungguhnya sang pelatih sedang menerapkan metode militer terhadap anak itu. Metode ini memang cukup berbahaya karena dapat membuat sang anak terlalu menderita. Namun, oleh karena kegigihannya, anak itu berhasil melalui pendidikan yang menyiksa dan membuat menderita tetapi kemudian memetik hasil yang sangat memuaskan.

2 Timotius 2:3-4
“Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.”

Ketika memutuskan untuk mengikut Yesus, kita pun terpaksa harus menjalani kehidupan yang bernuansa militer. Ayat di atas merupakan panggilan yang sangat jelas bagi kita untuk ikut menderita. Sama seperti anak yang berjuang keras untuk berlatih balet hingga ujung jari-jari kakinya memar dan berdarah, kita pun harus melalui penderitaan yang berat selama mengikut Yesus. Ketika anak itu berjuang melalui penderitaannya untuk melakukan putaran balet, tentu ia tidak sempat berpikir bahwa ia akan meninggalkan tempat latihan untuk bersantai-santai sejenak. Jika kita benar-benar sudah siap untuk menderita selama mengikut Yesus, kita pun seharusnya sudah tidak sempat lagi memikirkan kepentingan pribadi kita. Semuanya kita lakukan untuk kepentingan Tuhan, untuk memuaskan-Nya saja. Amin.

Salam kasih,

Bagas Karyadi